Syekh Ahmad Khatib Sambas salah satu tokoh panutan kaum Nahdliyin (sebutan warga Nahdlatul Ulama biasa disingkat NU). (FOTO diambil dari situs www.nu.or.id serta legalitas dari dokumen Kerajaan Belanda)
Bermula dari wacana. Bisa diwujudkan melalui kerja berbagai pihak. Haul Ahmad Khatib akan menjadi peristiwa monumental. Jejaknya terus ditelusuri.
SINGKAWANG. Peringatan 40 hari wafatnya Abdurrachman Wahid (Gus Dur) di Kota Singkawang beberapa hari lalu, telah mengilhami gagasan untuk menggelar haul Syekh Ahmad Khatib Sambas. Hal ini bertujuan menjalin silaturrahim di antara para ulama. Terlebih sosok ulama besar tersebut merupakan guru para ulama di Nusantara.
“Gagasan untuk menggelar haul itu sangat baik dan dapat ditindaklanjuti oleh NU (Nahdlatul Ulama, red) di Kalbar. Di sini kan ada NU wilayah yang bisa diajak bicara. Paling tidak upaya itu untuk mengumpulkan umat Islam supaya tidak terpisah-pisah,” kata DR KH Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Besar (PB) NU dalam wawancara eklusif bersama Equator, usai memberi materi tabligh akbar dalam haul Gus Dur, Rabu (3/2) lalu.
Hasyim mengharapkan dari Haul Ahmad Khatib Sambas itu dapat mengangkat semangat pluralime ulama. Sebab, ulama tidak pernah menggunakan kekerasan lintas agama dalam menyebarkan agama. “Yang ada kekerasan ketika melawan penjajah dulu,” ujar Hasyim.
Ide dan gagasan haul itu beranjak ketika dalam pembicaraan informal antara para pengurus NU di Kalbar. Diperkuat lagi dengan latar belakang Kabupaten Sambas yang dikenal memiliki julukan sebagai daerah Serambi Makkah dan sosok ulama besar itu. Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalbar pada bulan shafar 1217 H, bertepatan dengan tahun 1803 M dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin.
Menurut Hasyim, terpenting dari haul itu nantinya semangat ulama yang identik dengan ilmu dan harus dibangkitkan. Terutama ilmu yang amaliah yang nyata dalam kehidupan, bukan pintarnya sendiri kemudian berbeda dengan kelakuannya.
“Itu ciri seorang ulama yang bisa menyatukan ilmu dengan amal. Ciri lainnya adalah konsistensi antara ilmu, pikiran, sikap dan ucapannya. Setidaknya ini untuk mengingatkan pentingnya konsistensi. Sebab sekarang ini orang berpendapat ikut pendapatan, ini yang membuat keadaan menjadi kisruh. Ciri ulama lainnya, pengabdian masyarakat secara total,” ujar dia.
Sekarang ini, lanjut Hasyim, pilar ulama sedang rontok di Indonesia. Makanya penting digelar haul tersebut. Apalagi Indonesia tidak bisa ditolong dengan hukum apapun karena krisis karakter.
Ketua Pengurus Wilayah NU Kalbar Drs M Zeet Hamdy Assovie MTM merespons wacana berbagai pihak untuk menggelar haul Ahmad Khatib Sambas. “Ini harus menjadi keinginan umat Islam, terutama yang berada di Kalbar. Saya mendapat informasi jika haul itu digelar maka akan ada sekitar dua ribuan ulama dari luar Kalbar yang akan hadir,” kata M Zeet.
Hal ini menandakan, Ahmad Khatib Sambas telah mendunia dan murid-muridnya banyak tersebar di Kalbar dan berbagai belahan dunia. “Beliau lah satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjadi imam besar di Mekkah,” kata M Zeet.
Dengan haul tersebut, ujar M Zeet, dapat mempererat ukhuwah Islamiyah. “Semoga saja semua pihak nantinya dapat berkontribusi untuk sebuah event yang bersejarah dan besar tersebut,” kata M Zeet.
Seperti diketahui, Ahmad Khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya adalah H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
Ahmad Khatib selanjutnya dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya di Mekkah. Ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M. Ketika telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tak kembali lagi ke tanah air.
Ahmad Khatib banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid yang berhasil menjadi ulama termasyhur. Murid lainnya, Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras melawan imperialisme Belanda pada 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten.
Ajaran Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab Fathul Arifin yang merupakan notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah. Kitab ini memuat tata cara, baiat, talqin, zikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.
Respons lainnya datang dari Mul’am Khusyairi, tokoh pemuda Sambas. “Akan banyak manfaat dapat dipetik jika haul itu dilaksanakan. Saat ini diperlukan sebuah kegiatan yang dapat membangkitkan ghiroh (semangat, red) yang dapat mempersatukan umat,” kata Mul’am.
Mul’am yang juga aktif dalam kegiatan budaya ini mengaku tengah menelusuri jejak-jejak Ahmad Khatib di Sambas dan beberapa daerah lainnya. Ia juga tengah mengumpulkan karya dan manuskrip ulama besar itu. (ova)